Senin, 19 Juli 2010

LAPORAN PENDAHULUAN isolasi sosial

LAPORAN PENDAHULUAN
ISOLASI SOSIAL

I. KASUS ( Masalah Utama )
Isolasi adalah keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak ( Carpenito, 1998 )
Isolasi sosial adalah suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Towsend,1998)
Seseorang dengan perilaku menarik diri akan menghindari interaksi dengan orang lain. Individu merasa bahwa ia kehilangan hubungan akrab dan tidak mempunyai kesempatan untuk membagi perasaan, pikiran dan prestasi atau kegagalan. Ia mempunyai kesulitan untuk berhubungan secara spontan dengan orang lain, yang dimanivestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak ada perhatian dan tidak sanggup membagi pengalaman dengan orang lain (DepKes, 1998)
II. Proses Terjadinya Masalah
1. Faktor Predisposisi
a. Faktor Perkembangan
Pada dasarnya kemampuan seseorang untuk berhubungan sosial berkembang sesuai dengan proses tumbuh kembang mulai dari usia bayi sampai dewasa lanjut untuk mengembangkanhubungan sosial yang positif, diharapkan setiap tahapan perkembangan dapat di laluidengan sukses. Sistem keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan respon maladaftif.
b. Faktor biologis
Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaftif.


c. Faktor sosiokultural
Isolasi sosial merupakan faktor utama dalam gangguan berhubungan hal ini di akibatkan oleh norma yang tidak mendukung pendekatanterhadap orang lain, tidak mempunyai anggota masyarakat yang kurang produktif seperti lanjut usia, orang cacat dan penderita penyakit kronis. Isolasi sosial dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku dan sistem nilai yang berbedadari yang dimiliki budaya mayoritas.
d. Faktor dalam keluarga
Pada komunikasi dalam keluarga dapat mengantar seseorang dalam berhubungan, bila keluarga hanya hal – hal yang negatif akan mendorong anak mengembangkan harga diri rendah. Adanya dua pesan yang bertentangan di sampaikan pada saat bersamaan mengakibatkan anak menjadi enggan berkomunikasi dengan orang lain.
2. Faktor Presipitasi
a. Stress sosiokultural
Stress dapat di timbulkan oleh karena menurunya stabilitas unit keluarga dan berpisah dengan orang yang berarti, misalnya karena dirawat di rumah sakit.
b. Strees psikologis
Ansietas yang berat yang berkepanjangan terjadi secara bersamaan dengan keterbatasaan kemampuan untuk mengatasinya. Tuntunan untuk berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan ketergantungan dapat mengakibatkan ansietas tingkat tinggi.




3. Rentang respon
Respon Adaftif Respon maladaftif

Solitude Kesepian Manipulasi
Autonom Menarik diri Impulsif
Kebersamaan Ketergantungan Narkisme
Saling Ketergantungan
Keterangan rentang respon
1) Respon adaftif ialah respon yang di terima oleh norma sosial dan kultural di mana individu tersebut menjelaskan masalah dalam batas normal
a) Solitude
Respon yang di butuhkan untuk menentukan apapun yang telah di lakukandi lingkungan sosial dan merupakan suatu cara mengawasi diri dan menempatkan langkah berikutnya.
b) Otonomi
Suatu kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide – ide pikiran.
c) Kebersamaan
Suatu keadaan dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu memberi dan menerima.
d) Saling ketergantungan
Saling ketergantungan antara individu dengan orang lain dalam hubungan interpersonal.
2) Respon maladaftif ialah respon yang di lakukan individu dalam menyelamatkan masalah yang menyimpang dari norma – norma sosial dan kebudayaan suatu tempat.
a) Menarik diri
Gangguan yang terjadi apabila seseorang memutuskan untuk tidak berhhubungan dengan orang lain untuk mencari ketenangann sementara waktu.
b) Manipulasi
Hubungan sosial yang terdapat pada individu yang mengangap orang lain sebagai objek dan berorientasi pada diri sendiri atau pada tujuan, bukan berorientasi pada orang lain, individu tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
c) Ketergantungan
Individu gagal mengembangkan rasa percaya diri dan kemampuan yang di miliki.
d) Impulsif
Ketidakmampuan merancanakan sesuatu tidak mampu belajar dari pengalaman, tidak dapat di andalkan, mempunyai penilaian yang buruk dan cenderuang memaksakan kehendak.
e) Narkisme
Harga diri yang rapuh secara terus menerus berusaha mendapatkan penghargaan dan pujian, memiliki sikap egosentris, pecemburu dan marah jika orang lain tidak mendukung.
4. Mekanisme koping
Mekanisme koping pertahanan diri yang sering di gunakan pada masing – masing gangguan hubungan sosial sangat berpariasi, seperti pada klien dengan curiga ialah regresi, proyeksi, represi. Pada dependen ialah regresi pada manipulatif ialah regresi, represi, isolasi, dan menarik diri ialah regresi, represi, isolasi.
- Regresi, menghindari stress, kecemasan dan menampilkan perilaku kembali seperti pada perilaku perkembangan anak atau berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk mengulangi anisietas.
- Proyeksi, keinginan yang tidak dapat ditoleransi mencurahkan emosi pada orang lain karena kesalahan diri sendiri.
- Represi
- Isolasi

III. a. Pohon Masalah
Resiko halusinasi


Harga diri rendah
b. Masalah keperawatan dan data yang perlu di kaji.
1. Resiko perubahan sensori presepsi Halusinasi
2. Isolasi Sosial
Data yang perlu di kaji ialah :
1. Faktor predisposisi
a. Faktor Perkembangan
Pada dasarnya kemampuan seseorang untuk berhubungan sosial berkembang sesuai dengan proses tumbuh kembang mulai dari usia bayi sampai dewasa lanjut untuk mengembangkanhubungan sosial yang positif, diharapkan setiap tahapan perkembangan dapat di laluidengan sukses. Sistem keluarga yang terganggu dapat menunjang perkembangan respon maladaftif.
b. Faktor biologis
Faktor genetik dapat berperan dalam respon sosial maladaftif.


c. Faktor sosiokultural
Isolasi sosial merupakan faktor utama dalam gangguan berhubungan hal ini di akibatkan oleh norma yang tidak mendukung pendekatanterhadap orang lain, tidak mempunyai anggota masyarakat yang kurang produktif seperti lanjut usia, orang cacat dan penderita penyakit kronis. Isolasi sosial dapat terjadi karena mengadopsi norma, perilaku dan sistem nilai yang berbedadari yang dimiliki budaya mayoritas.
d. Faktor dalam keluarga
Pada komunikasi dalam keluarga dapat mengantar seseorang dalam berhubungan, bila keluarga hanya hal – hal yang negatif akan mendorong anak mengembangkan harga diri rendah. Adanya dua pesan yang bertentangan di sampaikan pada saat bersamaan mengakibatkan anak menjadi enggan berkomunikasi dengan orang lain.
2. Faktor Presipitasi
a. Stress sosiokultural
Stress dapat di timbulkan oleh karena menurunya stabilitas unit keluarga dan berpisah dengan orang yang berarti, misalnya karena dirawat di rumah sakit.
b. Strees psikologis
Ansietas yang berat yang berkepanjangan terjadi secara bersamaan dengan keterbatasaan kemampuan untuk mengatasinya. Tuntunan untuk berpisah dengan orang terdekat atau kegagalan orang lain untuk memenuhi kebutuhan ketergantungan dapat mengakibatkan ansietas tingkat tinggi.



IV. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko perubahan sensori presepsi Halusinasi
2. Isolasi Sosial
V. Rencana Tindakan Keperawatan
Langkah kedua dari proses keperawatan adalah perencanaan dimana perawat akan menyusun rencana yang akan dilakukan pada klien untuk mengatasi masalah, perencanaan disusun berdasarkan diagnosa keperawatan diagnosa satu atau masalah utamanya adalah gangguan persepsi sensori halusinasi.
SP I
1. Membina hubungan saling percaya
2. Mengindentifikasi penyebab isolasi klien
3. Berdiskusi dengan klien tentangan keuntungan berinteraksi dengan orang lain.
4. Berdiskusi dengan klien tentang kerugian tidak berinteraksi dengan orang lain.
5. Mengajarkan klien cara berkenalan dengan satu orang
6. Menganjurkan klien untuk memasukan latiahan berbincang – bincang dengan orang lain dalam jadwal kegiatan harian.
SP II
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien
2. Memberi kesempatan kepada klien mempraktekan cara berkenalan dengan satu orang.
3. Membantu klien memasukan kegiatan berbincang – bincang dengan orang lain sebagai salah satu kegiatan harian.
SP III
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien.
2. Memberi kesempatan kepada klien untuk berkenalan kepada 2 orang atau lebih.
3. Menganjurkan klien memasukan dalam jadwal kegiatan harian.